Jika Orang Kafir Masuk Islam


Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah akan menghapus seluruh dosa yang pernah dia lakukan, lalu setelah itu (amal perbuatan) ada pembalasannya. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat. Tapi satu kejahatan hanya dibalas dengan semisalnya kecuali kalau Allah mengampuninya.” (H.R. Bukhari)

Kita terkadang melihat di televisi, media sosial, dan lainnya, ada orang kafir (non-muslim) masuk Islam. Banyak latar belakang yang menjadi alasan mereka memeluk Agama Islam, seperti karena membaca al-Qur’an, membaca kitab mereka sendiri, menonton video Zakir Naik, dan lainnya. Dalam Islam, orang-orang seperti ini ada ganjaran/balasan yang sangat agung seperti yang disebutkan dalam hadits di atas.

Apabila orang kafir masuk Islam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni seluruh kesalahan yang pernah ia lakukan sebelum masuk Islam dan tidak akan menghisabnya. Ini adalah rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala agar manusia memeluk Agama Islam meskipun telah mengerjakan banyak dosa. Ibnu Hajar al-Asqalani ketika menjelaskan hadits di atas berkata, "Yang dimaksud bagusnya keislaman seseorang adalah baik keislamannya dalam akidah, keikhlasan, serta ia memeluk Agama Islam secara lahir dan batin, juga merasakan kedekatan dan pengawasan Allah dalam setiap perbuatannya.” Dalam hadits lainnya, dari Abu Syumasah al-Muhriy, ia berkata, “Kami membesuk 'Amr bin al-'Ash pada saat dia sedang sakratul maut, tiba-tiba dia menangis dan memalingkan wajahnya ke dinding, lalu anaknya berkata, ‘Wahai bapakku, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjanjikan engkau begini dan begini?’ Maka 'Amr bin al-'Ash menghadapkan wajahnya seraya berkata, ‘Amal perbuatan yang paling mulia untuk dipersiapkan adalah persaksian bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Sesungguhnya aku mengalami tiga masa kehidupan. Dulu, tidak ada seorang pun yang paling aku benci melebihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang mampu membuatku senang kecuali bisa membunuh beliau. Seandainya aku mati pada saat itu, pasti aku menjadi penghuni neraka. Kemudian tatkala Islam merasuk dalam hatiku, aku datang kepada beliau lalu aku berkata, ‘Ulurkan tangan kananmu untuk aku bai’at.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulurkan tangan kanan beliau dan aku pegang erat-erat tangan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Wahai 'Amr, ada apa denganmu?’ Aku menjawab, ‘Aku mempunyai sebuah syarat.’ Beliau berkata, ‘Apa syaratmu?’ Jawabku, ‘Diampuni dosaku.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Tidakkah engkau tahu, bahwa Islam menghapus seluruh (dosa) yang terjadi sebelumnya?' Maka tidak ada seorang pun yang lebih kucintai dan kuagungkan melebihi Rasulullah, sampai aku tak kuasa memandangnya karena rasa hormat. Seandainya aku mati pada saat itu, aku bisa berharap agar bisa menjadi penduduk surga. Namun (setelah itu) kita lewati banyak peristiwa. Aku tidak tahu bagaimana posisiku pada saat itu. Maka kalau aku mati, jangan ada yang meratapiku dan jangan menyalakan api. Lalu apabila kalian menguburku, taburkanlah tanah di atas tubuhku kemudian berdiamlah di sekitar kuburku selama waktu cukup menyembelih unta dan membagikan dagingnya sehingga aku bisa tenang dengan kalian dan akan aku lihat bagaimana menjawab pertanyaan utusan Tuhanku.” (H.R. Muslim). Pelajaran yang diambil dari kisah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menghapuskan (dosa) yang terjadi sebelumnya?” Yakni apabila seseorang masuk Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghapus dan mengampuni semua dosa yang pernah dia lakukan sebelum masuk Islam.[1]

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat luas. Sangat mudah bagi Allah untuk menghapus dan mengampuni dosa makhluk-Nya. Oleh karena itu, jangan putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian, semoga bermanfaat.



Referensi:
[1] Khamsah wa Tsalatsuna Sababan li Ghufran adz-Dzunub fi Dhau’ al-Kitab wa as-Sunnah karya Fatin binti ‘Abdul ‘Aziz.




Penyusun

Hendi Oktohiba, S.H.

Alumni Ahwal al-Syakhshiyah

Universitas Islam Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits tentang Luasnya Ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala

Hadits tentang Keutamaan Mengucapkan "Rabbana wa Lakal Hamdu"